Friday, December 13, 2013

HASIL KUNJUNGAN LAPANGAN
 SMK TRITECH INFORMATIKA MEDAN

oleh : Kelompok 5

1. Laili isrami (11-020)
2. Nurfazrina (11-036)
3. Atika M Nataya Nst (11-086)
4. Zulfa Dzatarohmah (11-108)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Sekolah
Nama Sekolah
SMK Tritech Informatika Medan
Nomor Pokok Sekolah Nasional
Bidang Keahlian
Teknik Informasi Dan Komunikasi
Program Keahlian
Teknik Komputer Dan Informatika
Kelurahan / Kecamatan
Indra Kasih / Medan Tembung
Propinsi
Sumatera Utara
Jalan
Jln. Bhayangkara No. 522 CDE
Telepon / Faximile
Status Sekolah / Akreditasi
Swasta / --
Nomor Surat Izin Berdiri
420/10985/PPMP/09
Tanggal Penetapan
06 Agustus 2010
Bangunan Sekolah
Milik Sendiri
Organisasi Penyelenggara
Yayasan Pendidikan Triadi Teknologi
Website
Email
 
Visi :
·         Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional.
Misi :
·         Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT.
·        Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan.

B.  Profil Observer

Hari                            : Senin
Tanggal                      : 18 November 2013
Waktu                        : 08.20 – 09.15 Wib
Lama Observasi         : 1 Jam
Tempat                       : Kelas X MM I
Mata Pelajaran          : Penjaskes
Nama observer 1      : Laili Isrami
NIM                            : 111301020
Nama observer 2      : Nurfazrina
NIM                            : 111301036
Nama observer 3      : Atika M. N. Nst
NIM                            : 111301086
Nama oberver 4        : Zulfa D.
NIM                            : 111301108

C.  Kondisi Fisik Kelas
Ruangan kelas X MM 1 terletak di lantai 1, ruangan kelasberukuran 7x4 m dengan cat berwarna hijau dan menggunakan pintu kaca dengan diterangi 3 buah lampu. Kelas X MM 1 tersebut memiliki fasilitas yaitu berupa : 1 buah TV plasma, 1 buah whiteboard, 2 buah AC, dan 1 kipas angin (yang pada saat itu tidak sedang dinyalakan).
Jumlah siswa pada kelas X MM 1 sebanyak 24 siswa, dengan jumlah siswa perempuan 12 orang dan siswa laki-laki 12 orang. Namun, pada saat observasi dilakukan, jumlah siswa yang hadir adalah 20 siswa, yakni semua siswa perempuan hadir dan hanya 8 orang siswa laki-laki yang datang.
Media yang guru gunakan pada saat proses belajar-mengajar adalah 1 buah laptop, 1 buah plasma yang terhubung dengan laptop untuk menampilkan materi yang akan mereka pelajari, 1 buah spidol hitam dan 1whiteboard. Media pembelajaran siswa/i adalah sebuah laptop, buku tulis, dan alat tulis.
D.  Hasil Observasi
Pada saat kelompok melakukan observasi pada kelas X MM 1 tersebut, mereka sedang belajar mata pelajaran Penjas, yaitu lebih tepatnya dengan topik Atletik. Guru menerangkan dengan suara yang keras sehingga mampu menarik perhatian siswa, kemudian sesekali guru melakukan gerakan - gerakan fisik untuk memperagakan cara melakukan lempar lembing, tolak peluru, dan lain-lain. Pada saat menerangkan materi tersebut, guru Penjas tersebut juga memberikan humor-humor pada siswa nya agar proses belajar-mengajar tidak monoton.
Ketika satu sub materi sudah selesai, guru memberikan kesempatan pada murid-murid untuk bertanya, dan siswa-siswa secara bergantian bertanya pada guru, begitu juga guru menjawab secara bergantian dan memberikan tanggapan pada siswa yang sudah bertanya. Ketika tidak ada satu orang siswa pun yang bertanya dan mengatakan bahwa mereka sudah mengerti, guru tersebut mencoba untuk membuktikannya dan bertanya pada salah satu murid laki-laki (pada saat itu menjabat sebagai wakil ketua kelasX MM I). Namun, jawaban dari wakil ketua kelas tersebut kurang sesuai, maka guru tersebut mencoba memberikan arahan jawabannya sehingga siswa tersebut dapat menjawabnya kembali dengan benar.
Di saat guru sedang menerangkan, siswa-siswa tersebut mendengarkan dengan seksama. Sesekali mereka mencatat apa yang dikatakan oleh gurunya di buku catatan mereka dan ada yang mencatatnya di laptop mereka masing-masing,yakni ada sekitar 5 siswa laki-laki mencatat pelajarannya dengan menggunakan laptop. Namun pada saat guru menerangkan, kelompok sempat menangkap beberapa siswa laki-laki sedang melihat ke arah luar ruangan dengan durasi yang cukup lama.Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kelas tersebut menggunakan pintu dan dinding kaca pada sisi belakangnya sehingga orang-orang yang berada di luar kelas yang hilir-mudik dengan urusannya masing-masing dapat dilihat dari dalam ruangan kelas.
Setelah semua materi sudah disampaikan oleh guru, guru tersebut memberikan refreshing pada siswanya dengan memberikan video yang ditampilkan di plasma seperti gerakan senam tangan , kemudian para siswa diminta untuk mengikutinya. Namun,  sebelum proses belajar-mengajar benar-benar diakhiri, guru ingin memberikan mereka tugas, tapi mereka protes dan menolak. Oleh karena itu guru meminta pada mereka untuk memberikan alasan yang logis mengapa mereka menolak untuk diberikan tugas dari perwakilan siswa perempuan dan laki-laki. Masing-masing dari perwakilan tersebut mengatakan tiga alasan, yaitu (1) karena tugas Penjas yang diberikan sebelumnya belum selesai. (2) tugas mereka tidak hanyaPenjas saja tapi masih banyak tugas mereka pada pelajaran lain. Dan (3)waktunya tidak cukup untuk menyelesaikan tugas tersebut. Namun, guru tersebut memberikan mereka dua jawaban, yaitu (1) bahwa sebagai seorang siswa mereka harus belajar apalagi mereka adalah siswa SMK Tritech yang selama tiga tahun ini sebagai SMK percontohan. (2) jika mereka merasa terbebani karena tugas seperti ini, lebih baik mereka tidak bersekolah saja.Setelah guru menjelaskan kedua alasan tersebut , pada akhirnya para siswasetuju untuk mengerjakan tugas dari gurunya tersebut selama 10 menit sebelum waktu mata pelajaran Penjas habis.
BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN
     A. Sistem Belajar yang Dikaitkan dengan Teori Skinner
I.   Komponen Pembelajaran
Skinner memperkenalkan konsep-konsep yang dipertimbangkan dalam perencanaan ruang kelas antara lain :
a.    Stimuli diskriminatif
b.    Kotingensi penguatan
c.    Dinamika ruang kelas
Stimuli diskriminatif. Skinner menjelaskan bahwa pengajaran lebih dari sekedar memberitahukan sesuatu. Stimulus diskriminatif ini bertindak sebagai isyarat bagi perilaku tertentu, juga berfungsi untuk mengarahkan perhatian siswa, misalnya seperti “Lihat gambar ini”. Dalam kelas X MM I ini, guru memberikan beberapa stimulus dikriminatif untuk mengarahkan perhatian siswa-siswa antara lain mengajar dengan suara yang keras, menggunakan plasma sebaagai alat bantu menjelaskan, juga dengan mempraktikkan gerakan-gerakan atletik di depan kelas. Stimulus ini berhasil menangkap perhatian siswa yang ditandai dengan siswa tidak ribut dan aktif bertanya.
Kontingensi penguatan. Dalam hal ini termasuk mengatur agar siswa mengalami kesuksesan, mempertimbangkan karakteristik siswa, dan membedakan antara perilaku dengan yang diatur kontingensi dengan yang diatur peraturan. Bila dikaitkan dengan kegiatan belajar Penjas di kelas X MM I, guru berusaha untuk siswa mampu atau sukses menguasai topikatletik. Guru selalu memastikannya dengan berulang-ulang bertanya juga memberikan penguatan jika siswa berhasil menjawab. Meskipun begitu, guru juga mampu mengatur respon - respon murid yang terkadang tidak terprediksi seperti saat siswa memberikan komentar yang kurang sesuai, guru tidak menghukumnya melainkan mengarahkannya.
Dinamika ruang kelas. Hal ini mencakup memperkuat aproksimasi suksesif, dan memperkuat perilaku yang tidak kompatibel dengan perilaku yang menganggu. Bila dikaitkan dengan dinamika ruang kelas X MM I, dinamika ruang kelas sudah cukup baik yakni situasi kelas yang tidak terlalu tegang, kemudian guru yang sangat mengapresiasi respon siswa-siswanya. Saat respon siswa sudah sesuai dengan yang seharusnya, guru memberikan pujian. Namun saat respon tidak kompatibel seperti saat diberikan tugas kemudian siswa menolak dan protes, guru memberikan nasihat – nasihat agar siswa menjadi termotivasi untuk mengerjakan tugas. Kemudian guru juga menampilkan beberapa video yang menyegarkan pikiran siswa-siswa, hal ini juga dapat sebagai penguatan.
II. Mengembangkan Strategi Kelas
Salah satu aplikasi penting dari mengembangkanstrategikelasadalah mengembangkan iklim kelas yang positif. Dimana Skinner (1973) mengatakan bahwa guru dapat membuat transisi dari hukuman ke penguatan positif dengan satu perubahan sederhana yaitu merespon kekuksesan siswa ketimbang kegagalan siswa (Skinner, 1973, h.15),maksudnya adalah daripada menunjukkan kesalahan yang sudah dilakukan siswa, lebih baik guru memberikan arahan apa dan bagaimana yang harus dilakukan siswa agar benar. Dengan begitu, hasilnya akan berupa situasi yang membaik dan pembelajaran yang lebih efisien.
Dari teori diatas, dapat dilihat bahwa guru Penjas tersebut sudah mencoba mendidik siswa sesuai dengan teori Skinner. Hal ini dapat dilihat bahwa saat siswa menjawab pertanyaan dengan salah, guru tersebut tidak memarahinya ataupun mengukum tetapi guru tersebumemberikan arahan pada siswa tersebut agar dapat menjawab dengan benar. Hal ini juga didukung pada pernyataan Skinner bahwa praktek penguatan lebih direkomendasikan pada proses belajar-mengajar dan hukuman harus dihindari karena ia menghasilkan efek emosional yang tidak diinginkan dan tidak menimbulkan perilaku positif yang diinginkan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
     A. Kesimpulan
Meskipun observasi yang dilakukan cukup singkat yakni kurang lebih 1 jam, kelompok dapat menyimpulkan bahwa sistem mengajar dan belajar di kelas X MM I dapat dikaitkan dengan teori penguatan Skinner. Guru secara sadar atau tidak sadar menggunakan beberapa prinsip belajar yang dikemukakan Skinner yakni adanya stimulus, respon, serta penguatan yang diberikan dari guru ke siswa.
Kelompok juga menyimpulkan bahwa sistem belajar yang diterapkan oleh guru cukup efektif dan berhasil dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini ditandai dengan siswa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru tersebut dengan benar. Ditambah lagi, strategi kelas yang guru berikan sesuai dengan teori Skinner yaitu saat jawaban siswa salah, guru membuat transisi dari hukuman ke penguatan positif dengan memberikan arahan jawaban tanpa memberikan hukuman atas kesalahan siswa tersebut.
     B. Saran
Kelompok berpendapat bahwa fasilitas-fasilitas yang mendukung sistem belajar mengajar di SMK Tritech Informasi cukup baik. Hanya saja menurut kelompok, akan lebih baik jika SMK Tritech Informasi memiliki ruangan terbuka bagi siswa-siswa, selain itu juga sebaiknya pintu kelas tidak terbuat dari kaca sehingga konsentrasi siswa di dalam kelas tetap terjaga.
  
DAFTAR PUSTAKA
   Gredler, Margaret E. 2013 . Learning and Instruction : Teori dan Aplikasi.Edisi 6. (diterjemahkan oleh Tri Wibowo B.S. ). Kencana. Jakarta
 Profil SMK Tritech Informatika. Diakses pada 19 November 2013, darihttp://www.tritech.sch.id/
  Visi dan Misi SMK Tritech Informatika. Diakases pada 19 November 2013, dari http://www.tritech.sch.id/

Friday, November 1, 2013

Testimoni

Belajar (learning) adalah proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks. Akan Tetapi kapasitas belajar adalah karakteristik yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Hanya manusia yang memiliki otak yang berkembang baik untuk digunakan melakukan tindakan yang memiliki tujuan (Golgberg, 2001).

Pada awalnya tugas ini dianggap sebagai proses belajar yang sederhana. Ketika mulai dijalankan dan dikerjakan secara perlahan ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Karena dalam mengerjakannya memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap teori yang ada dibuku yang disesuaikan dengan kejadian nyata yang ada pada diri sendiri. Di sinilah saat-saat menghadapi tugas yang kompleks. Dimana dikatakan pada saat inilah individu merasa sedang mengalami yang namanya proses belajar. Manusia juga makhluk spesial yang berbeda dari makhluk lainnya. Manusia memiliki otak yang dapat berpikir dan membagi waktu. Dalam menyelesaikan tugas ini diperlukan kerja otak yang lebih untuk menemukan teori yang sesuai dan pengaturan waktu menyelesaikan yang harus diatur agar selesai tepat waktu.

Model UTS seperti ini sangat memberikan kesan tersendiri pada saya. Apalagi saya mengerjakan UTS ini ketika sedang di opname. Tidak ada alasan untuk maju dan belajar. Jika ada kemauan dan keinginan yang kuat semuanya bisa dilalui dengan baik.

Tuesday, October 22, 2013

Metode Jigsaw


Metode jigsaw pertamakali dikenalkan pada guru‐guru SD dan SMP pada akhir tahun 1970an sebagai metode pembelajaran yang dapat menghasilkan capaian akademik dan social‐emotional (Resor, 2008; Steiner, Stromwall, Brzuzy, dan Gerdes, 1999). Pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw memiliki tujuan kognitif, yaitu pengetahuan faktual akademis; dan tujuan sosial, yaitu kerjasama kelompok.

Metode pembelajaran jigsaw adalah metode pembelajaran yang hampir sama dengan metode pembelajaran skrip kooperatif, namun pada metode pembelajaran jigsaw pembagian topik dan pembagian tugas lebih spesifik lagi.

Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada table berikut ini:

Tuesday, October 8, 2013

HASIL DISKUSI PSIKOLOGI BELAJAR
Kelompok 5 :

Berikut ini adalah hasil diskusi kelompok mengenai analisa permasalahan yang ada di kelas psikologi belajar berdasarkan PBL
  1. Identifikasi Masalah.
Menurut kelompok , masalah mengenai ketidaaktifan mahasiswa di kelas psikologi belajar dikarena beberapa hal, yakni :
·         Ketidakpercayaan pada pendapat sendiri, merasa bahwa orang lain memiliki pendapat yang lebih baik sehingga tidak mau mengemukakan pendapatnya.
·         Tidak menguasai materi pelajaran sehingga bingung untuk memberikan pendapat.
·   Takut pendapatnya salah ataupun tidak sesuai dengan yang diminta oleh dosen pengampu.
  1. Analisa Masalah
Menurut kelompok, adanya proses belajar yang salah merupakan salah satu penjelasannya. Maksudnya di sini, mahasiswa salah menginterpretasi lingkungan . Dalam masalah ini, lingkungannya adalah proses belajar di kelas yang membutuhkan keaktifan mahasiswa tanpa melihat benar atau salah pendapat yang diberikan tetapi mahasiswa menginterpretasikan bahwa pendapat mereka haruslah benar dan sesuai sehingga proses belajar yang salah terjadi dalam keadaan ini.
 
Mengenai penguatan dari dosen pengampu, menurut kelompok, dosen pengampu sudah sangat memberikan penguatan yang berupa aprsesiasi tinggi mengenai pendapat-pendapat yang dikemukakan mahasiswa. Menurut kelompok, ini adalah bentuk penguatan yang sesuai dengan mahasiswa bukan lagi penguatan dalam bentuk nilai saja yang diharapkan. Maka dari itu, dengan apresiasi yang tinggi dari dosen pengampu seharusnya meningkatkan motivasi mahasiswa dalam mengemukakan pendapat.
 
Kemudian , kelompok melihat hal ini juga dipengaruhi tipe kepribadian individu sehingga malu untuk mengemukakan pendapat.

Dari sisi teori gestalt, kelompok juga berpendapat bahwa mahasiswa cenderung terlalu memikirkan yang hal-hal spesifiknya misalnya mahasiswa berfikir bahwa pendapatnya tidak baik dan merasa tidak terlalu memberikan kontribusi pada kelas, seharusnya mahasiswa lebih berfikir secara keseluruhan bahwa proses belajar yg aktif memberikan banyak manfaat ke diri sendiri.

Selain itu, berdasarkan teori bab 3 mengenai otak manusia bahwa otak manusia terdiri dari beribu-ribu saraf untuk memproses informasi, saraf akan menerima stimulus yang kemudian disampaikan kepada otak,setelah diproses di otak maka output yang keluar berupa tindakan yang sesuai dan tepat dengan kondisi yang diminta. Dalam proses penerimaan stimulus oleh saraf juga dipengaruhi oleh faktor keadaan emosi dan motivasi dari individu. Oleh karena itu, kelompok menganalisa bahwa diperlukan motivasi yang tinggi dalam melakukan proses kognitif dalam hal ini adalah menerima instruksi untuk mengemukakan pendapat di depan kelas sehingga perilaku atau tindakan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi yang diminta yaitu menjadi aktif di dalam kelas.
  1. Solusi
Menurut kelompok solusi yang dapat dilakukan adalah :

a. Berdasarkan teori behavior, adanya peran penguatan cukup efektif dalam proses belajar dalam hal ini bisa berupa bentuk nilai ataupun apresiasi. Namun menurut kelompok, ini masih sistem belajar paedagogi dimana adanya ketergantungan terhadap imbalan. Seharusnya mahasiswa sudah menerapkan sistem belajar andaragogi. Maka dari itu, kelompok mengusulkan untuk belajar dalam bentuk diskusi kelompok.

b. Mahasiswa mengubah pola pikir mereka yang sesuai dengan prisip gestalt yaitu lebih memikirkan secara keseluruhan bahwa belajar aktif memberikan keuntungan yang besar bagi diri sendiri serta meningkatkan motivasi diri.
BAB 5
Kondisi Belajar Robert Gagne

Keterampilan, apresiasi, dan penalaran manusia dengan semua variasinya, dan juga harapan, aspirasi, sikap, dan nilai-nilai manusia, umumnya diakui bahwa perkembangannya sebgaian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar. (Gagne, 1985, h. 1)

Asumsi Dasar:
Asumsi dasar dari teori Gagne mendeskripsikan sifat unik dari kegiatan belajar manusia dan definisinya tentang belajar.

Asumsi:
  • Belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain.
  • Belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual.
  • Banyak hasil belajar manusia digeneralisasikan ke berbagai macam situasi.
  • Belajar manusia adalah kumulatif, belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada belajar sebelumnya.
  • Belajar bukan proses tunggal.
Pendekatan Gagne untuk pemahaman belajar pada manusia berbeda dengan pendekatan sebelumnya, terutama dalam dua hal:
  1. Keharusan langkah awal untuk menganalisis keragaman belajar manusia.
  2. Belajar dan pemebelajaran harus dikembangkan secara beriringan. 
Kerangka belajar yang dideskripsikan Gagne terdiri dari:
  • Lima ragam belajar.
  • Kondisi belajar internal.
  • Kondisi belajar eksternal.
BAB 4
Pengkondisian Berpenguat Skinner

Bayi mengocok mainan, anak lari dengan sepatu roda, dan ilmuwan mengoperasikan siklotron, semuanya diperkuat oleh hasil. (Skinner, 1968b, h. 153)

Asumsi dasar:
Dasar karya Skinner terdiri dari deskripsinya tentang sifat dari ilmu behavioral dan sifat dari proses belajar.

Asumsi:
  • Belajar adalah perubahan perilaku/ behavioral.
  • Perubahan perilaku secara fungsional berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan atau kondisi.
  • Hukum relasi antara perilaku dan lingkungan dapat ditemukan hanya jika sifat behavioral dan kondisi eksperimental didefenisikan dalam istilah fisik dan diamati di bawah kondisi yang terkontrol.
  • Data dari studi eksperimental atas perilaku adalah satu-satunya sumber informasi tentang penyebab perilaku yang dapat diterima.
  • Perilaku subjek individual adalah sumber data yang tepat.
  • Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua spesies.
Thorndike telah mengidentifikasi tiga komponen penting dari perubahan perilaku (Skinner, 1953). Yakni:
  1. Kesempatan di mana perilaku terjadi.
  2. Perilaku itu sendiri.
  3. Konsekuensi dari perilaku.