Saturday, April 12, 2014

PEDAGOGI ABAD 21


Pedagogi abad ke-21 yang dikenal juga sebagai pedagogi progresif. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk TIK memang telah melahirkan perubahan besar dalam pola pembelajaran. Pedagogi tidak hanya berbicara mengenai seni dan ilmu mengajar, melainkan juga mendorong banyak orang untuk melakukan redesain dan pemahaman ulang atas bagaimana menggunakannya untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman. Pedagogi progresif adalah metode pembelajaran yang berorientasi pada tujuan kegiatan yang disengaja dan direncanakan di mana outcome, guru dan peran serta aktivitas siswa benar-benar jelas dan dijelaskan. Penelitian mengenai penggunaan berbagai metode pembelajaran dalam pengaturan tatap muka mengungkapkan bahwa dalam kondisi tertentu, adalah dimungkinkan untuk memindahkan peserta didik dari tingkat belajar rendah (misalnya, hafalan/menghafal data dan fakta) ke tingkat yang lebih tinggi dalam pembelajaran (misalnya pemahaman tentang fenomena yang kompleks dan disarikan melalui keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kompleks). Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa siswa yang menggunakan strategi pembelajaran aktif dan beragam lebih memungkinkan untuk memperoleh tingkat pemahaman yang lebih canggih daripada siswa yang tidak menggunakan strategi pembelajaran aktif dan beragam (Williams, 2002).

Saya sering memberikan pembelajaran kepada adik saya dengan cara membimbingnya secara langsung. Pada suatu ketika adik saya meminta diajarkan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Adik saya duduk di kelas 4 SD. Adik saya ingin diajarkan pelajaran kesenian. Pada saat itu materinya adalah tentang alat musik dari daerah-daerah yang berasal dari Indonesia. Untuk mempermudah adik saya memahami lebih mudah alat-alat musiknya, saya membuka dan mencari alat-alat musik tersebut melalui google di gadget saya. Akhirnya keluarlah gambar-gambar alat musik beserta daerah asalnya. Adik saya, saya suruh membaca dan melihatnya. Lalu mengisi jawaban dari pertanyaan PR-nya. Dan saya juga menyuruhnya untuk menghafal beberapa dari alat-alat musik tersebut beserta daerah asalnya. Sebagai persiapan adik saya ulangan harian keesokan harinya. Setelah adik saya menghafalnya, saya mengujinya dengan menanyakan kembali. Ketika ada jawaban yang salah maka saya menyuruh adik saya membaca dan menghafalnya lagi.

Dari pengalaman saya dengan adik saya tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa terdapat kesesuaian dengan pedagogi abad 21. Dimana pedagogi abad 21 kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk TIK memang telah melahirkan perubahan besar dalam pola pembelajaran. Dapat terlihat dari gambaran, pada saat itu materinya adalah tentang alat musik dari daerah-daerah yang berasal dari Indonesia. Untuk mempermudah adik saya memahami lebih mudah alat-alat musiknya, saya membuka dan mencari alat-alat musik tersebut melalui google di gadget saya. Akhirnya keluarlah gambar-gambar alat musik beserta daerah asalnya. Tetapi terdapat kekurangan dimana saya hanya menyuruh adik saya membaca dan menghafalnya tanpa menyuruh adik saya untuk mengaplikasikannya sehingga adik saya dapat menjadi lebih aktif dan kreatif. Terlihat dari adik saya, saya suruh membaca dan melihatnya. Lalu mengisi jawaban dari pertanyaan PR-nya. Dan saya juga menyuruhnya untuk menghafal beberapa dari alat-alat musik tersebut beserta daerah asalnya. Sebagai persiapan adik saya ulangan harian keesokan harinya. Setelah adik saya menghafalnya, saya mengujinya dengan menanyakan kembali. Ketika ada jawaban yang salah maka saya menyuruh adik saya membaca dan menghafalnya lagi. Padahal seharusnya terdapat penelitian lain yang mengatakan mengenai penggunaan berbagai metode pembelajaran dalam pengaturan tatap muka mengungkapkan bahwa dalam kondisi tertentu, adalah dimungkinkan untuk memindahkan peserta didik dari tingkat belajar rendah (misalnya, hafalan/menghafal data dan fakta) ke tingkat yang lebih tinggi dalam pembelajaran (misalnya pemahaman tentang fenomena yang kompleks dan disarikan melalui keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kompleks).

Friday, April 11, 2014



NAMA            :           ZULFA DZATAROHMAH
NIM                :           111301108
MATKUL       :           PEDAGOGI
TUGAS           :           INDIVIDU WAWANCARA GURU


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Ilmu mengajar bisa dipelajari di mana pun dan kapan pun, baik individual, kelompok, maupun dilembagakan. Pembelajaran, seperti halnya aktivitas pertanian dan penyembuhan, adalah seni kerjasama yang membantu alam melakukan apa yang dapat dilakukannya sendiri, meski tidak mungkin selalu baik hanya dengan itu. Tapi, kebanyakan siswa dalam proses belajar menjadi lebih pasti dan kurang menyesakkan ketika dibantu oleh guru. Cara guru memandu dan metode kerjanya membuat belajar siswa menjadi lebih mudah dan efektif. Inilah seni mengajar, yang tidak mungkin ditemukan pada proses alami kehidupan alam organik. Guru berhadapan dengan siswa yang banyak dan beragam. Mereka menerima kepuasan ketika menghadapi siswa yang baik, meski belum tentu berprestasi tinggi dan menjadi manusia sukses di masa depan.
Badan Nasional Standar Profesional Pengajaran di Amerika Serikat telah membuat rumusan yang baik tentang pengajaran, di mana guru memfasilitasi peluang belajar siswa tidak hanya sekedar menempatkan orang-orang muda di lingkungan edukatif, melainkan juga harus memotivasi mereka, menangkap pikiran dan hati mereka, serta melibatkan mereka aktif dalam pembelajaran. Guru tidak memiliki kepentingan apapun, kecuali siswanya menjadi pembelajar yang baik. Inilah kepentingan guru. Guru berperan dalam mendorong dan membangkitkan gairah baru siswa untuk membangun jembatan antara apa yang mereka ketahui dan dapat lakukan, serta bagaimana mereka mampu menjadi pembelajar yang kontinyu. Disamping itu guru juga harus menghargai perbedaan individu dan percaya semua siswa dapat belajar, meskipun pada tingkat dan dengan percaya siswa dapat belajar, meskipun pada tingkat dan dengan cara yang berbeda.
Kegiatan pembelajaran yang baik menuntut kehadiran guru yang baik. Berbeda guru, berbeda pula karakter dan gayanya. Keistimewaan adalah suatu kebajikan dan pembelajaran yang sukses bertumpu pada karakter guru serta pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Esensinya guru bisa meggunakan gaya apa saja, asalkan dengan cara itu dia mampu mebuat standar dan perilaku mengajar yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan mudah dan benar. Penulis ingin melakukan wawancara dengan salah seorang guru SD untuk mengetahui pandangan guru tentang pendidikan, motivasi yang mendasari guru mengajar, bagaimana sudut pandangnya sebagai guru dalam melihat peserta didik, apa filosofi dalam mengajar, dan pendekatannya dalam mengajar.

B.     Tujuan
Penulis melakukan wawancara ini untuk mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan pandangan guru tentang pendidikan, motivasi yang mendasari guru mengajar, bagaimana sudut pandangnya sebagai guru dalam melihat peserta didik, apa filosofi dalam mengajar, dan pendekatannya dalam mengajar dari salah seorang guru SD yang diwawancarai.

C.     Manfaat
·        Dapat dijadikan salah satu panduan atau sumber tambahan bagi para guru terutama pada guru SD dalam hal mengajar.
·        Menjadi sumber ide wawancara lanjutan bagi yang ingin melakukan wawancara seputar dunia guru dalam mengajar.
·        Referensi dan sumber informasi tambahan pada pengajar dan mahasiswa yang mengambil mata kuliah pedagogi ataupun mata kuliah lain yang berkaitan.


BAB II
HASIL WAWANCARA

A.     Identitas Guru yang Diwawancarai
Nama                           =          Nu
Usia                             =          45 tahun
Jenis Kelamin               =          Perempuan
Pendidikan                   =          S1 – Pendidikan Biologi di salah satu PTN
Masa Mengajar            =          2006 - sekarang
Tempat Mengajar         =          SD Swasta Deli Insani
Pengajar                       =          Guru IPA
Status Sertifikasi           =          Dalam proses

B.     Kegiatan Wawancara
Tempat =          SD Swasta Deli Insani
Tanggal            =          Kamis, 03 April 2014
Waktu              =          13.30 – 14.30 WIB

C.     Hasil Wawancara
a.       Pandangan guru tentang pendidikan
Bagaimana pandangan ibu Nu tentang pendidikan?
Pendidikan menurut saya adalah proses dimana adanya pentransferan ilmu dari pendidik kepada yang di didik. Pendidikan tidak hanya dilakukan oleh guru di sekolah, bisa juga dilakukan oleh orang tua di rumah. Pendidik juga bisa menggunakan caranya tersendiri agar ilmu tersebut sampai pada yang di didik.
Bagaimana pandangan ibu Nu tentang pendidikan di Indonesia?
Pandangan saya tentang pendidikan di Indonesia semakin lama semakin mengalami kemajuan seiring perubahan-perubahan kurikulum yang ada. Khususnya pada dunia Sekolah Dasar (SD) pada saat sekarang ini anak kelas 1 SD saja sudah belajar IPA dan Bahasa Inggris walaupun belum terlalu spesifik. Pada tahun awal-awal saya mengajar kelas 1 SD belum ada pelajaran IPA dan Bahasa Inggris. Sekarang juga persyaratan masuk ke SD murid harus sudah bisa membaca dan menulis dan diutamakan yang telah mengenyam pendidikan TK dan harus cukup umur.

b.      Motivasi yang mendasari guru mengajar
Apa motivasi yang mendasari ibu Nu dalam mengajar?
Motivasi saya mengajar murid-murid adalah karena saya suka kepada anak-anak. Ketika saya mengajarkan ilmu yang saya miliki kepada anak-anak ada rasa kepuasan tersendiri apalagi ketika anak-anak yang saya ajarkan tersebut mengerti apa yang saya ajarkan. Saya juga ingin agar murid-murid saya dapat menjadi lebih pintar daripada saya nantinya. Menurut saya ketika kita mengajar anak SD itu ada kekhasan yang tersendiri, dimana murid-murid itu masih harus selalu dibimbing oleh gurunya.

c.       Bagaimana sudut pandangnya sebagai guru dalam melihat peserta didik
Bagaimana pandangan ibu Nu sebagai guru dalam melihat peserta didik?
Pandangan saya sebagai guru melihat murid-murid saya mereka adalah generasi muda yang perlu di didik dan di tanamkan pendidikan yang sesuai dan nilai-nilai agama agar menjadi bekal mereka untuk kedepannya. Peserta didik terutama murid-murid saya di Sekolah Dasar ini perlu bimbingan dan contoh yang baik dari gurunya. Karena anak SD itu banyak yang lebih mendengar perkataan gurunya daripada orang tuanya. Makanya terkadang ada orang tua yang meminta tolong kepada guru di sekolah untuk menyampaikan sesuatu ke anaknya. Murid-murid saya sekarang juga suka deket-deket sama gurunya dan terkadang malah ada yang meminta dibelikan jajan. Beberapa dari mereka ada yang manja berbeda dengan saya ketika SD dulu, dimana guru itu seperti yang ditakuti.

d.      Apa filosofi dalam mengajar
Apa filosofi ibu Nu dalam mengajar?
Filosofi saya dalam mengajar adalah untuk menjadikan murid-murid saya menjadi anak yang berilmu dan bertaqwa. Karena menurut saya berilmu saja tanpa didasari oleh nilai-nilai agama itu kurang baik. Sebaiknya menurut saya harus sejalan dan sesuai. Dan guru harus memberikan contoh dari itu semua. Karena murid-murid menjadikan gurunya sebagai contohnya terutama pada anak SD.

e.       Pendekatannya dalam mengajar
Bagaimana pendekatan ibu Nu dalam mengajar?
Saya ketika mengajar menggunakan pendekatan membimbing murid-murid saya tentang apa yang saya akan ajarkan. Saya bukan guru yang suka memukul dan memarahi murid saya. Karena saya merasa bahwa murid harus dekat dan senang sama gurunya baru murid tersebut akan menurut dan dapat mengikuti pelajaran dengan lebih baik. Terkadang saya juga suka langsung terjun ke lapangan bersama murid-murid saya, misalnya pada saat pelajaran IPA membuat tauge dari biji kacang hijau dengan begitu anak-anak menjadi lebih mengerti dan mereka senang.


BAB III
PEMBAHASAN

Banyak orang mengatakan bahwa mengajar adalah ilmu. Bagi mereka, kegiatan mengajar harus berbasis dan dipandu oleh ilmu. Mereka ini menekankan aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Mereka percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi hanya secara kebetulan.
Isu strategis utama yang dihadapi profesi guru dan pendidikan umum adalah pedagogi. Pandangan tradisional memposisikan pedagogi sebatas seni mengajar atau mengasuh. Kini sangat kuat dan konsisten untuk mengembangkan hubungan dialektis yang bermanfaat antara pedagogi sebagai ilmu dan pedagogi sebagai seni (Salvatori, 1996). Melihat pedagogi dari dua perspektif ini nampaknya paling ideal. Kalaupun kita mengakui bahwa pedagogi sebagai ilmu pengetahuan dan terdefinisi secara spesifik, tentu definisi itu juga akan menggamit dimensi seni, teori, dan praktik mengajar dan belajar. Kesemuanya sesungguhnya memiliki fokus yang sama. Beberapa definisi yang terkait dengan pedagogi disajikan berikut ini:
a.       Pengajaran (teaching), yaitu teknik dan metode kerja guru dalam mentransformasikan konten pengetahuan, merangsang, mengawasi, dan memfasilitasi pengembangan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berhasil. Ini dapat terlihat dari hasil wawancara mengenai pandangan ibu Nu terhadap pendidikan.
Pendidikan menurut saya adalah proses dimana adanya pentransferan ilmu dari pendidik kepada yang di didik. Pendidikan tidak hanya dilakukan oleh guru di sekolah, bisa juga dilakukan oleh orang tua di rumah. Pendidik juga bisa menggunakan caranya tersendiri agar ilmu tersebut sampai pada yang di didik.
b.      Belajar (learning), yaitu proses siswa mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan. Ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan ibu Nu.
Menurut saya berilmu saja tanpa didasari oleh nilai-nilai agama itu kurang baik. Sebaiknya menurut saya harus sejalan dan sesuai. Dan guru harus memberikan contoh dari itu semua. Karena murid-murid menjadikan gurunya sebagai contohnya terutama pada anak SD.
c.       Hubungan mengajar dengan belajar dengan segala faktor lain yang tergamit, seperti siswa melakukan penelitian sederhana. Ini dapat terlihat dari hasil wawancara mengenai pendekatan ibu Nu dalam mengajar.
Terkadang saya juga suka langsung terjun ke lapangan bersama murid-murid saya, misalnya pada saat pelajaran IPA membuat tauge dari biji kacang hijau dengan begitu anak-anak menjadi lebih mengerti dan mereka senang.
d.      Hubungan mengajar dan belajar berkaitan dengan semua pengaturan. Sekolah merupakan salah satu bagian dari total spektrum pengaruh pendidikan. Ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan ibu Nu.
Peserta didik terutama murid-murid saya di Sekolah Dasar ini perlu bimbingan dan contoh yang baik dari gurunya. Karena anak SD itu banyak yang lebih mendengar perkataan gurunya daripada orang tuanya. Makanya terkadang ada orang tua yang meminta tolong kepada guru di sekolah untuk menyampaikan sesuatu ke anaknya.


BAB IV
KESIMPULAN

Dengan demikian, jelas bahwa apakah mengajar sebagai ilmu atau seni, bahwa guru memiliki kebutuhan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan baik dalam hal mendidik yang disepadani dengan nilai-nilai agama dan membentuk suasana belajar yang menyenangkan. Pedagogi yang efektif menggabungkan alternatif strategi pembelajaran yang mendukung keterlibatan intelektual, memiliki keterhubungan dengan dunia yang lebih luas, lingkungan kelas yang kondusif, dan pengakuan atas keberadaan penerapannya pada semua pelajaran. Ibu Nu adalah guru yang lebih kepada pedagogi modern. Terlihat dari beberapa hasil wawancara yang telah dilakukan penulis dengan beliau.


BAB V
SARAN

Sebaiknya ibu Nu juga harus tegas kepada muridnya karena menurut penulis lebih baik jika seimbang antara tegas dan memberikan perhatian dan kasih sayang yang menyenangkan kepada peserta didik. Saran untuk pemerintah, sebaiknya pemerintah tidak terlalu mengejar target dengan perubahan kurikulum karena takutnya para murid dan guru belum siap menghadapinya. Dan terakhir untuk penulis sendiri dan masyarakat atau yang berkecimpung di dunia pendidikan diharapkan kedepannya juga mewawancarai guru yang sudah memperoleh sertifikasi agar data yang didapatkan lebih kaya dan beragam.


DAFTAR PUSTAKA

Danim, S. & Khairil. 2013. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Badung: Alfabeta

Thursday, April 10, 2014

Kemampuan yang harus dikembangkan dalam kompetensi Pedagogik


Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi sebagai berikut:
a.       Kemampuan mengelola pembelajaran
Secara pedagogis, kompetensi guru-guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting, karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat, dinilai kering dari aspek pedagogis, dan sekolah nampak lebih mekanis sehingga peserta didik cendrung kerdil karena tidak mempunyai dunianya sendiri.
b.      Pemahaman terhadap peserta didik
Pemahaman terhadap peserta didik merupakan kompetensi yang harus dimiuliki oleh guru. Setidaknya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu tingkat kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, dan perkembangan kognitif.
c.       Perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru yang aan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran setidaknya mencakup tiga kegiatan yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.
d.      Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Dalam Rencana Peraturan Peemerintah tentang Guru, bahwa guru haru memiliki kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yag mendidik dan dialogis. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran, sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikasi. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan prilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal: pre tes, proses, dan post tes.
e.       Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran
Guru dituntut untuk memiliki kompetensi dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran, terutama internet (e-learning), agar ia mampu memanfaatkan berbagai pengetahuan, teknologi, dan informasi dalam melaksanakan tugas utamanya mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir, menganalisis dan memilih informasi yang paling tepat dan berkaitan langsung dengan pembentukan kompetensi peserta didik serta tujuan pembelajaran. Dengan demikian, penguasaan guru terhadap standar kompetensi dalam bidang teknologi pembelajaran dapat dijadikan sebagai salah satu indikator standar dan sertifikasi kompetensi guru.
f.       Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik, yang dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi,benchmarking, serta penilaian program.
g.      Pengembangan Peserta Didik
Pengembangan peserta didik merupakan bagian dari kompetensi paedagogik yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara, antara lain melalui kegiatan ekstra kurikuler (ekskul), pengayaan dan remidial, serta bimbingan dan konseling (BK).

PARADIGMA PENDIDIKAN NASIONAL ERA PRAKRISIS

Popularisasi Pendidikan :
Bangsa Indonesia dilanda krisis total menerpa seluruh aspek kehidupan masyarakat dan berbangsa. Krisis yang bermula dari krisis moneter ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis politik, hukum, kebudayaan dan akhirnya menjadi krisis kepercayaan. Krisis yang menyeluruh tersebut pada hakikatnya merupakan refleksi krisis kebudayaan karena berkaitan dengan rapuhnya kaidah-kaidah etik dan moral dari bangsa kita. Krisis kebudayaan pula merupakan krisis pendidikan (Tilaar : 2004) karena kebudayaan merupakan jaringan yang dibentuk dan membentuk pribadi-pribadi masyarakat Indonesia. Karenanya diperlukan meninjau kembali paradigma-paradigma yang telah mendasari krisis pendidikan nasional. Dari analisis mengenai paradigma-paradigma sistem pendidikan nasional beserta hasil-hasil yang telah dicapai, maka kita akan mempunyai suatu gambaran keseluruhan mengenai kekeliruan-kekeliruan yang telah kita lakukan pada masa lalu. Dari hasil yang telah kita capai selama era pra-krisis  akan kita temukan anomali-anomali yang terjadi, yaitu kesenjangan anatara apa yang diharapkan dan apa yang dihasilkan.
  1. Peningkatan pendidikan merupakan pemutusan mata rantai kemiskinan (teori lingkaran setan penanggulangan kemiskinan)
  2. Mempercepat terpenuhinya wajib belajar pendidikan sekolah dasar untuk semua anak usia sekolah dasar (education for all)
  3. Merintis pelaksanaan wajib belajar 9 tahun untuk meningkatkan kecerdasan rakyat
Hasil-hasil yang dicapai :
  1. Meningkatnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk ternyata tidak dengan sendirinya menurunkan kemiskinan absolut
  2. Peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan peningkatan investasi dalam bidang pendidikan sehingga sulit untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan.
  3. Angka partisipasi sekolah dasar, sekolah menengah, dan pendidikan tinggi terus meningkat. Pada tahun 1984 sudah dicapai target wajib belajar 6 tahun sebagai pendidikan universal. Namun demikian angka partisipasi untuk pendidikan tinggi adalah yang terendah di asia.
Anomali-anomali
  1. Peningkatan kuantitatif pendidikan tidak sejalan dengan peningkatan produktifitas. Tingkat keterampilan tenaga kerja Indonesia termasuk terendah di Asia
  2. Tingkat pengangguran sarjana semakin lama semakin meningkat.
  3. Popularisasi pendidikan tidak sejalan dengan investasi untuk sektor pendidikan dan anggaran belanja pemerintah.
  4. Popularisasi pendidikan tidak sejalan dengan usaha-usaha serius peningkatan kualitas