Monday, June 4, 2012


KWIK SURVEYS

Nama                     : Zulfa Dzatarohmah
NIM                      : 111301108
Mata kuliah            : Psikologi Pendidikan
Topik                    : Kondisi Pada Saat Perkuliahan
Jumlah Partisipan  : 50 orang

Setelah menunggu beberapa hari  dari  awal saya membuat dan melaunch kuisioner ini, akhirnya survey saya selesai juga. Tentunya tidak lepas dari arahan-arahan yang diberikan oleh Bu Dina dan teman-teman yang telah mengisi kuisioner saya. Terima kasih atas semua partisipasinya.
Tujuan dilakukannya survey ini adalah untuk mengetahui  “Kondisi  Pada Saat Perkuliahan” . Kuisioner saya telah diisi oleh 50 partisipan dan terdiri dari 8 pernyataan.
Berikut hasil dari survey yang telah saya lakukan :

A.   Data

·         Kuisioner     : Terdiri dari 8 pernyataan.

1.     Berkurangnya konsentrasi saat perut kosong.
2.    Mengantuk dapat membuyarkan materi yang sedang berlangsung.
3.    Merasa tidak nyaman mengikuti perkuliahan ketika belum mandi di pagi hari.
4.    Merasa malu jika terlambat dan tidak diperkenankan mengikuti perkuliahan.
5.    Tidak masuk kuliah jika memiliki masalah dengan teman satu kelas.
6.    Tidak masuk kuliah jika memiliki masalah pribadi (keluarga, pacar).
7.    Menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa kurang menarik.
8.    Menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa galak yang menjadikan suasana perkuliahan menjadi menegangkan.


·         Jawaban      : Terdiri dari 3 pilihan.

Setuju                  =  Jika sependapat dengan pernyataan.
Netral                   =  Jika berada di tengah-tengah.
Tidak Setuju         =  Jika tidak sependapat dengan pernyataan.




·         Partisipan    : Terdiri dari 50 orang.
                                                                       
Laki-laki      = 11 orang
Perempuan   = 39 orang

B.    Hasil

1.     Berkurangnya konsentrasi saat perut kosong.
Setuju              = 46 orang   (92.00%)
 Netral             = 3 orang     (6.00%)
 Tidak Setuju    = 1 orang      (2.00%)

2.    Mengantuk dapat membuyarkan materi yang sedang berlangsung.
Setuju              = 48 orang   (96.00%)
 Netral             = 2 orang     (4.00%)
 Tidak Setuju    = 0               (0.00%)

3.    Merasa tidak nyaman mengikuti perkuliahan ketika belum mandi di pagi hari.
Setuju              = 39 orang   ( 78.00%)
 Netral             = 11 orang     (22.00%)
 Tidak Setuju    =  0              ( 0.00%)

4.    Merasa malu jika terlambat dan tidak diperkenankan mengikuti perkuliahan.
Setuju              = 38 orang   ( 76.00%)
Netral              = 11 orang     (22.00%)
 Tidak Setuju    = 1 orang      (2.00%)

5.    Tidak masuk kuliah jika memiliki masalah dengan teman satu kelas.
Setuju              = 2 orang     ( 4.00%)
 Netral             = 5 orang     ( 10.00%)
Tidak Setuju     = 43 orang   (86.00%)

6.    Tidak masuk kuliah jika memiliki masalah pribadi (keluarga, pacar).
Setuju              = 5 orang     (10.00%)
 Netral             = 10 orang    (20.00%)
Tidak Setuju     = 35 orang   (70.00%)

7.    Menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa kurang menarik.
Setuju              = 6 orang     (12.00%)
Netral              = 17 orang    (34.00%)
Tidak Setuju     = 27 orang   (54.00%)

8.    Menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa galak yang menjadikan suasana perkuliahan menjadi menegangkan.
Setuju              = 6 orang     (12.00%)
 Netral             = 12 orang    (24.00%)
 Tidak setuju    = 32 orang   (64.00%)


C.    Kesimpulan

Dari 8 pernyataan dapat dilihat bahwa ;
·         Tingkat persentase setuju yang paling tinggi terdapat pada pernyataan 1, 2, 3, dan 4. Pernyataan 2 (96.00%), kemudian pernyataan 1 (92.00%), kemudian pernyataan 3 (78.00%), dan terakhir pernyataan 4 (76.00%).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa berkurangnya konsentrasi saat perut kosong, mengantuk dapat membuyarkan materi yang sedang berlangsung, merasa tidak nyaman mengikuti perkuliahan ketika belum mandi di pagi hari dan merasa malu jika terlambat dan tidak diperkenankan mengikuti perkuliahan dapat mempengaruhi kondisi seseorang pada saat perkuliahan.

·         Tingkat persentase tidak setuju yang paling tinggi terdapat pada pernyataan 5, 6, 7, dan 8. Pernyataan 5 (86.00%), kemudian pernyataan 6 (70.00%), kemudian pernyataan 8 (64.00%), dan terakhir pernyataan 7 (54.00%).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak masuk kuliah jika memiliki masalah dengan teman satu kelas, tidak masuk kuliah jika memiliki masalah pribadi (keluarga, pacar), menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa kurang menarik dan menghindari untuk tidak mengikuti perkuliahan, jika dosennya dirasa galak yang menjadikan suasana perkuliahan menjadi menegangkan tidak dapat mempengaruhi  kondisi seseorang pada saat perkuliahan.

·         Sebagian partisipan memilih untuk netral, walaupun tingkat persentasenya tidak begitu tinggi.

·         Dan pada pernyataan nomor 3, persentase tidak setuju adalah 0.00%. Itu menunjukkan bahwa hampir semua partisipan setuju dengan pernyataan “Merasa tidak nyaman mengikuti perkuliahan ketika belum mandi di pagi hari” dan 22.00% lainnya memilih untuk netral.

Pengertian Pedagogis dan Andragogis


Pedagogis adalah ilmu atau seni mengajar anak-anak, proses pembelajaran terpusat pada guru atau pengajar. Andragogis adalah ilmu atau seni mengajar orang dewasa, proses pembelajaran terpusat pada peserta didik.
Pembelajaran yang bercorak pedagogik hanya akan menghasilkan budaya bisu (the cultural of silence). Peserta didik hanya diposisikan sebagai obyek yang harus menuruti kemauan guru. Dengan pembelajaran yang bercorak andragogik maka peserta didik menjadi mitra belajar bagi guru itu sendiri. Guru dan peserta didik menjadi sama-sama belajar, ada keharmonisan dan kehangatan dalam belajar karena keduanya merasa di”manusiakan” . Pembelajaran andragogik juga menekankan pada problem solver sehingga teori yang diajarkan akan menjadi pisau analisis terhadap realitas yang ada, bukannya terbatas sebagai alat untuk menjawab soal dalam ujian.

Dari Pedagogis ke Andragogis
Perintis methode Andragogis adalah John Dewey yang mempraktekkannya di University of Chicago tahun 1896. Kemudian dikembangkan Edward C.Linderman via buku ” The Meaning of Adult Education ” tahun 1926, Martha Anderson melalui ” Education Through Experience” tahun 1927. Selanjutnya methode ini disempurnakan oleh Malcolm Knowles (1913-1997).
1.Konsep diri peserta didik
• Pedagogis : Pribadi yang bergantung kepada gurunya
• Andragogis : Semakin mengarahkan diri (self-directing)
2. Pengalaman peserta didik
• Pedagogis : Masih harus dibentuk daripada digunakan sebagai sumber belajar
• Andragogis : Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain
3. Kesiapan belajar peserta didik
• Pedagogis : Seragam (uniform) sesuai tingkat usia dan kurikulum
• Andragogis : Berkembang dari tugas hidup & masalah
4. Oriensi dalam belajar
• Pedagogis : Orientasi bahan ajar (subject-centered)
• Andragogis : Orientasi tugas dan masalah (task or problem centered)
5. Motivasi belajar
• Pedagogis : Dengan pujian, hadiah, dan hukuman
• Andragogis : Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)
1. Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.
2. Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.
3. Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya.
4. Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.
5. Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.
Selain itu Knowles juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.
UNSUR-UNSUR PROSES
1. Suasana
• Pedagogis : Tegang, rendah dalam mempercayai, formal, dingin, kaku, lambat, orientasi otoritas guru, kompetitif dan sarat penilaian
• Andragogis : Santai, mempercayai, saling menghargai, informal, hangat, kerjasama, mendukung
2. Perencanaan
• Pedagogis : Utamanya oleh guru
• Andragogis : Kerjasama peserta didik dengan fasilitator
3. Diagnosa kebutuhan
• Pedagogis : Utamanya oleh guru
• Andragogis : Bersama-sama: pengajar dan peserta didik
4. Penetapan tujuan
• Pedagogis : Utamanya oleh guru
• Andragogis : Dengan kerjasama dan perundingan
5. Desain rencana belajar
• Pedagogis : Rencana bahan ajar oleh guru, Penuntun belajar(course syllabus) dibuat guru, Sekuens logis(logical sequence), pembelajaran oleh guru.
• Andragogis : Perjanjian belajar(learning contracts), Projek belajar(learning projects), Urutan belajar atas dasar kesiapan(sequenced by readiness)
6. Kegiatan belajar
• Pedagogis : Tehnik penyajian(transmitt al techniques), Tugas bacaan(assigned readings)
• Andragogis : Projek untuk penelitian(inquiry projects), Projek untuk dipelajari(learning projects), Tehnik pengalaman(experien tial techniques)
7. Evaluasi belajar
• Pedagogis : Oleh guru, Berpedoman pada norma(on a curve), Pemberian angka
• Andragogis : Oleh peserta didik berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasiltator, ahli(by learner-collected evidence validated by peers, facilitators, experts), Referensinya berdasarkan criteria(criterion- referenced)

Daftar Pustaka :  http://dedi.dcc.ac.id/pendagogis-vs-andragogis/

Friday, May 11, 2012


Ubiquitous Computing

Dapat didefinisikan sebagai penggunaan komputer yang tersebar di mana user berada. Sejumlah komputer disatukan dalam suatu lingkungan dan tersedia bagi setiap orang yang berada di lokasi tersebut. Setiap komputer dapat melakukan pekerjaan yang dipersiapkan untuk tidak banyak melibatkan intervensi manusia atau bahkan tanpa harus mendeteksi di mana pemakai berada.  Ide ubiquitous computing pertama kali disampaikan oleh Mark Weiser (1998) di Laboratorium Komputer Xerox PARC, yang membayangkan komputer dipasangkan di dinding, di permukaan meja, di setiap benda sehingga seseorang dapat berkomunikasi dengan ratusan komputer pada saat yang sama. Setiap komputer secara tersembunyi diletakkan di lingkungan dan dihubungkan secara nirkabel.

Buxton (1995) menyatakan bahwa ubiquitous computing mempunyai karakteristik utama yaitu:
  1. Ubiquity: interaksi tidak dilakukan oleh suatu saluran melalui satu workstation. Akses ke komputer dapat dilakukan di mana saja. Sebagai contoh, di suatu kantor ada puluhan komputer, layar display, dan sebagainya dengan ukuran bervariasi mulai dari tombol seukuran jam tangan, Pads sebesar notebook, sampai papan informasi sebesar papan tulis yang semuanya terhubung ke satu jaringan. Jaringan nirkabel akan tersedia secara luas untuk mendukung akses bergerak dan akses jarak jauh.
  2. Transparency: teknologi ini tidak menganggu keberadaan pemakai, tidak terlihat dan terintegrasi dalam suatu ekologi yang mencakup perkantoran, perumahan, supermarket, dan sebagainya.


TESTIMONI

Menurut saya sistem pembelajaran e-learning sangat bermanfaat dan memberi kemajuan. Karena kita tetap bisa saling berkomunikasi dengan 1 orang maupun lebih tanpa harus tatap muka. Dan ini memberi kemudahan. Waktu yang kita gunakan pun semakin efesien. Kita juga mulai menjadi maju dengan sistem pembelajaran seperti ini. Sistem pembelajaran ini didukung juga dengan informasi-informasi terupdate via internet.

Pada saat mulai mencoba mengakses google talk tidak ada hambatan. Semuanya mudah dan dapat dimengerti. Tetapi jika mengaksesnya via smartphone itu mengalami sedikit kendala dalam mengakses conferencenya. Yang bisa chat dalam bentuk grup.

Thursday, May 3, 2012


Anak Berkebutuhan Khusus


Adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.


Tunanetra

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)

Tunarungu

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:
1.         Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
2.       Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
3.       Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
4.       Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
5.       Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

Tunagrahita

Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ.
1.         Tunagrahita ringan (IQ : 51-70),
2.       Tunagrahita sedang (IQ : 36-51),
3.       Tunagrahita berat (IQ : 20-35),
4.       Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20).
Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih di titik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.

Tunadaksa

Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

Tunalaras

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

Daftar Pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus